RSS

Con Brio…Dengan Semangat…

26 Mei

Lulus tingkat 1…saudara tahu artinya..?, pasti tidak, atau saudara sendiri mahasiswa. Lulus tingkat 1 adalah berita yang harus di tampilkan, di sampaikan di koran atau di siarkan di radio…? ah, tidak perlu sejauh itu… Perlu lah kiranya ku sampaikan mercu suar kebahagiaan ini. Lulus tingkat 1…lagak lagu perlu di ganti, dari sepeda yang berkeringat…ke sepeda bermotor…lebih keras dan gagah membentak pelonco, tetapi lebih halus menyapa pelonci…kartu mahasiswa lebih dibanggakan…jaket dan atribut mahasiswa lebih apik dikenakan. Lulus tingkat satu, bangsal potong telah memanggil dan siap menyambut anda sebagai tamu agung…tamu agung karena untuk bertemu sapa dengannya, saudara harus melewati batu karang yang kokoh…batu karang tersebut adalah secarik kertas yang dibubuhi tandatangan assisten atau lebih tepatnya ko-assisten…beda assisten dan mahasiswa adalah sama..sama-sama mahasiswa…perbedaannya adalah mahasiswa kurang ajar dan kurang belajar, sedangkan asissten tau belajar tetapi kurang dihajar…

Itu semua yang terangan olehku, ketika aku mengeluarkan beberapa lembar uang seratus rupiah, akan membayar buku Spalteholz. Buku itulah yang kuharakan dapat membimbing aku ke dalam dunia mayat-mayat Anatomi, ke dalam bangsal potong. Spalteholz adalah pengarang buku itu, buku tentang ilmu urai dari tulang, daging sampai ke urat. Setiap mahasiswa kedokteran dari tingkat rendah sampai atas, mengenal buku itu. Bukan karena gambar-gambarnya yang gilang gemilang, bukan karena tebalnya yang lebih dari seribu halaman…atau gambar yang melukiskan daerah larangan pandangan antara leher dan pinggang dari seorang gadis tentunya….bukan, bukan karena sekalian itu, tetapi hanya karena senjata dan seteguh pengetahuan ilmu urai itu tercantum, semudah dan secepat itu pula orang melupakannya. Pendek kata, Spalteholz adalah dasar ilmu urai kedokteran. Dapat lah pula disamakan dengan “kamus” untuk seorang mahasiswa
sastra,dengan “kronig” untuk mahasiswa teknik, dan dengan “Engelbrecht” untuk mahasiswa hukum….”

“…..Bukan saja tengkorak yang menunjang tinggi nama kehormatan yang mengharumkan ruang museum itu. Juga bagian-bagian dari tubuh manusia lengkap dengan daging dan uratnya membawa penonton ke dalam dunia perincian yang serba sukar dipahami itu. Kepala dengan leher, ruang perut dan dada dengan isinya, alat-alat dalam yang telah dididis, tulang panggul dengan alat kelamin, semua itu telah diawetkan dalam kotak-kotak
gelas. Ada yang telah berpuluh tahun umurnya,ada yang baru mengalami celupan air keras,tetapi semuanya
sama berseregang dalam membela kekekalan pameran seni potong itu…..”

“…..lama kutambatkan pandangan pada anak kembar itu, mereka diam disana, di tengah-tengah sediaan lainnya
yang seakan-akan hendak menandingi keajaiban yang dipancarkan oleh penunggakan perhatian yang ulung itu.
Akhirnya aku menuju sebuah meja yang panjang terbentang, menangkap sorot lampu neon yang terang temarang.
Di sana kuletakkan buku Spalteholz yang dengan segala keberatannya, menindihkan otot-otot tanganku.
Di ujung yang lain dari meja, beberapa orang temanku telah asyik belajar, masing-masing menunggalkan pikiran dengan
gambar-gambar di buku….”

“…..Kembali aku menoleh kepada almari kaca berisikan tulang-tulang yang tampak dari luar. Mataku menjumpai secarik
kertas dengan perintah, “NB : Tulang-tulang tidak boleh dibawa pulang.”dibawa pulang….?! masa ada yang mau membawa
pulang,  saudara pasti akan bertanya. Memang saudara, tak ada orang yang sudi memberatkan sepedanya dengan tulang-tulang
bila masa telah lampau. Tetapi menjelang fajar hari tentamen menyingsing, tulang itu berharga. Hal itu baru kurasakan
ketika kuceburkan diri dalam alam pengetahuan tulang-tulang yang dibawakan oleh spalteholz. Tanpa tulang-tulang aku
coba belajar. Bukan belajar sebenarnya, tetapi menghafal….ya menghafal nama-nama yang tiada merdu bunyinya, tetapi janggal
dan aneh, seperti irama “boogie” dalam telinga pencipta lagu-lagu Bach…….

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 26, 2010 in Ruangan Pribadi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: