RSS

Arsip Bulanan: November 2011

Tentang Batavia…(resensi buku)


Judul : Batavia 1740, Menyisir Jejak Betawi
Penulis : Windoro Adi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : I, Agustus 2010
Halaman : 479 Halaman

Berbicara menangani etnis Betawi, tidak lagi sekadar berbicara mengenai pengaruh Arab maupun Cina. Kini persoalannya adalah bagaimana identitas etnis ini dapat bertahan seiring percepatan perubahan Jakarta yang enggan berhenti.

Jumlah pendatang yang tidak pernah surut, budaya asing yang terus menggempur, telah membuat identitas Betawi kian tidak terlihat. Padahal, semestinya, identitas budaya ini tetap kental meskipun Jakarta telah menjadi sebuah metropolitan.
Kira-kira, itulah yang ingin disampaikan Windoro Adi lewat buku ini. Ia seperti ingin memperlihatkan bahwa identitas Betawi perlahan-lahan memang tergeser dan terpinggirkan. Di sana-sini memang mencoba untuk bertahan, tetapi tetap saja menjadi bagian minor.
Sebut saja musik gambang kromong. Musik yang lahir dari kantong-kantong budaya Cina yang tersebar di sejumlah tempat di Jakarta ini, kini semakin tidak dihiraukan oleh generasi muda. Pertumbuhan kelompok musik gambang kromong dapat dipastikan jauh di bawah pertumbuhan kelompok musik pop.
Akhirnya seperti yang terlihat, pemain musik gambang kromong didominasi para pemain tua. Mereka tetap setia bermain gambang kromong bukan karena musik itu menghasilkan pendapatan yang lumayan, tetapi karena kecintaan mereka dalam memainkan musik tersebut.
Hal yang sama terjadi juga dengan lenong. Drama yang sarat komedi ini perlahan semakin jarang dilihat, baik di gedung kesenian maupun di televisi. Entah kenapa. Apakah karena kesenian ini dianggap kelas dua, sehingga kurang bernilai jual ketimbang kesenian lain seperti ketoprak misalnya.
Apakah mungkin hal tersebut disebabkan kesenian-kesenian ini belum dapat sepenuhnya tampil lebih berani, dalam arti keluar dari pakem agar lebih dapat diterima oleh masyarakat luas. Mungkin jawabannya “ya”.
Jika demikian, mengapa kesenian Betawi kurang dapat beradaptasi? Padahal, sepanjang sejarah, seperti dikisahkan dalam buku ini, masyarakat Betawi sendiri sebenarnya terbentuk dari akulturasi sejumlah etnis, artinya ada sifat keterbukaan dan toleransi tersimpan di sana. Jika begitu, sebenarnya kesenian Betawi lebih dapat beradaptasi.
Kekurangpedulian otoritas terkait terhadap masalah ini menjadi salah satu faktor penyebabnya. Pembiaran terhadap masalah yang terjadi terus memperparah masalahnya. Perkembangan kota Jakarta yang tidak dapat dihentikan dan cenderung tidak terkendali, membuat identitas Betawi kian pudar.
Ketidakpedulian otoritas terkait juga terlihat dalam bagaimana cara mereka memperlakukan peninggalan peninggalan sejarah. Banyak bangunan bersejarah di Jakarta yang memang tidak mendapatkan perhatian. Banyak gedung dinyatakan sebagai heritage kota, namun gedung-gedung tersebut dibiarkan begitu saja. Bahkan nasibnya seakan tidak dihiraukan, ketika bangunan tersebut diambil alih oleh pihak swasta. Parahnya banyak gedung yang dirobohkan kendati bangunan tersebut bernilai sejarah.
Selain itu, penulis buku ini juga ingin mengajak pembaca bernostalgia. Banyak cerita mengenai suatu tempat yang disampaikan dalam buku ini yang memang hanya tinggal cerita. Misalnya saja kawasan Rawa Belong. Dikisahkan dalam buku ini bahwa Rawa Belong pada suatu masa menjadi tempat yang terkenal seantero Jakarta.
Kondanganya tempat ini tentu saja tidak telepas dari keberadaan para jagoan silat yang berada di wlayah Rawa Belong. Tidak mengherankan jika kemudian Rawa Belong jadi pusat latihan silat di masa itu. Murid-muridnya pun datang dari berbagai daerah di Jakarta. Bahkan kemudian sejumlah guru silat legendaris lahir di sini.
Tetapi dimana jejak masa emas Rawa Belong saat ini? Hampir tanpa bekas. Kini kawasan Rawa Belong lebih terkenal dengan kawasan kuliner Betawi. Beberapa kedai nasi udik Betawi mangkal di sekitar kawasan ini. Sisanya adalah pertokoan biasa dan perkampungan mahasiswa.
Untung saja, tradisi seperti “buka palang pintu”, yakni adu silat dalam penyambutan pengantin laki-laki, masih dapat ditemui di wilayah itu. Dengan begitu jejak Rawa Belong sebagai “gudang” jago cingkrik (silat Betawi) masih dapat dilihat.
Selain itu, buku ini juga menyinggung beberapa jenis makanan khas Betawi. Makanan yang tebilang klasik diulas dalam buku ini, mulai dari kembang goyang, tape uli, gemblong sampai cucur. Makanan ini memang kalah pamor dengan kue-kue yang dijual di pusat-pusat belanja. Tetapi kue-kue tradisional nan klasik tentu masih mendapat tersendiri di hati masyarakat.
Makanan khas Betawi yang diulas secara khusus dalam buku ini adalah nasi kebuli. Meskipun nasi kebuli mendapatkan sentuhan dari Yaman Selatan namun orang Betawi sudah memiliki racikan spesial yang telah pas di lidah orang Betawi. Di buku ini ditulis dimana saja pembaca dapat mencicipi nasi kebuli tersebut.
Kelebihan buku ini adalah kemampuan penulisnya untuk melakukan penelusuran dan pengamatan di lapangan. Apalagi sejumlah wawancara dilakukan dengan narasumber yang tepat. Inilah yang membuat buku ini semakin hidup, terutama bagi mereka yang berada di Jakarta. Dengan membaca buku ini, pembaca akan mengetahui lebih banyak kisah maupun sejarah di balik gemerlap dan kelamnya Jakarta.

Batavia 1740 bukan sekadar ikhwal Betawi, tetapi juga sebuah cara untuk melihat bagaimana sebuah kultur terbangun dan berproses. Apakah kemudian proses tersebut akan terhenti atau justru punah karena kemajuan jaman.***

 

Sumber : http://ulas-buku.blogspot.com/

 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 11, 2011 in Resensi Buku

 

11-11-11…Hoki atau biasa aja ??

Assalamualaikum,Met Pagi…Saya cuma bisa senyum aja, ketika beberapa hari yang lalu membaca berita di salah satu media berita online di internet, disitu ditulis “Banyak yang Menikah 11/11/11, Penghulu Atur Strategi” dan ada juga berita yang ditulis “Fully Booked, Balai Sudirman Masih Diantre 20 Pasang untuk 11/11/11.Yah gimana ya,saya sendiri juga belum nikah sih,tapi agak aneh aja, kayak terkesan di paksa-in banget untuk tepat menjadi suami istri di tanggal tersebut. Emang-nya tanggal tersebut kenapa sih….bawa rejeki, keramat…atau punya hoki kalau orang Tionghoa bilang…mmm, iya sih, kalo teman saya bilang “susunan angka-nya itu loh yang bikin bagus…1…1..1…1..1″…pokok nya serba satu ya.

Berarti kalo tahun Depan, ada tanggal 12-12-2012 dong…wahh pasti dah banyak yang incar tuh tanggal.Lantas kenapa sih, kok keramat banget hal2 yang berhubungan dengan angka….atau istilah nya Numerologi. Kalau kita mau lihat, di gedung2 bertingkat…kayak nya hampir jarang yang ada lantai “13” nya…atau lantai “4” nya. Kenapa sih ???….katanya itu bisa bawa hal yang macem2 deh, menjurus ke sial…apalagi yang namanya angka 13…tapi bukan berarti tidak ada sama sekali gedung di Jakarta yang tidak punya lantai 13 loh…..coba sesekali mampir ke gedung Arthaloka di bilangan Sudirman…atau di Gedung BEJ…di dua gedung itu ada lantai 13 nya loh…hehehe..

Yah, kalau saya  pribadi sih, mau itu angka berapa-pun…tetap aja cuma angka…nggak saya anggap sial…nggak dianggap hoki…pokok nya sama aja.Walau begitu, saya juga punya sih angka favorit…angka 12 :D…malah tentangga-an satu digit sama angka 13 ya huehuehuehue..

Pernah juga baca artikel di internet, kalo katanya pesawat terbang itu, juga tidak menyediakan kursi penumpang yang bernomor 13…bener begitu nggak sih ???….bahkan masih ingat kejadian kecelakaan yang dialami Bang Saipul Jamil….di sekitar ruas tol Cipularang…itu juga berkaitan dengan angka. Iya, di KM 90 berapa gitu kalo nggak salah…lalu juga di balapan motor atau mobil, seakan2 dihindari banget yang nama-nya angka sial.Kalo begitu ya, kenapa harus ada angka 13 dibilangan deret hitung….bahkan Aljabar juga menciptakan angka2 dengan tujuan yang baik kan??, nggak ada maksud aneh2 di bilangan angka itu…

Jadi kesimpulan-nya, mau itu angka 13 kek, angka 4 kek…atau mungkin angka2 yang lain (pecahan, desimal, kuadrat,cacah, prima…loh loh, kok jadi Matematika hehehe :p )…semua nya baik kok, tinggal persepsi en niat kita aja….bukan-kah semua tindakan yang diawali niat baik, akan menghasilkan sesuatu yang baik juga kan….

Jakarta Selatan, 11-11-11

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada November 11, 2011 in Uneg-uneg rutin

 

Dan badmood pun berlanjut…..

 

Assalamualaikum, Met pagi…

Hmm….not in a good mood today, alias lagi ngedumel gak jelas pagi2 :(…pagi ini telat sih nggak ya, macet jg nggak ya…..tapi gak tau deh, dari kemaren malem…bawa-an nya kusut melulu.Pas main badminton kemaren malam juga kusut….pas pulang-nya,eh ketemu macet…tambah kusut….ditelpon sama Ibu pula, cuma gara2 jam setengah 10 lewat belum pulang ke rumah (hadehh, I’m a boy…not a girl…and not a child anymore mom..).

Sisa2 bete nya masih terasa pagi ini, tadi udah cobain minum madu..dah lumayan sih, ditambah Sholat Dhuha juga…Alhamdulillah dah adem deh.O’iya,hari ini juga saya pake pakaian yang gak seperti hari2 biasa nya….saya pake rompi :D…hehehe…jadi berasa kayak penyanyi yang mau manggung deh huehuehue :p…ga pa pa sih, kan dulu2 juga di kantor lama saya udah sering pake pakaian ini, cuma baru sekarang aja saya pake lagi…
Hari ini ada salah satu Direksi di kantor saya yang ultah…(ada hadiah doong :p)…boro2 ada hadiah…itu aja dia diam di ruangan nya..nunggu pegawai2 satu kantor ngudak2 ke ruangan nya cuma buat ngucapin selamat ultah…en dia cuma bilang “terima kasih ya”…hadeh2, sekali2 kasi bingkisan atau traktir2 ke pegawai dong Pak..

hmmm, jadi adem lagi deh….dengerin Mas Katon Bagaskara lagi nyanyi di Media Player komputer  saya…hehehe…”Negeri Di Awan”…hmmmm….let’s back to work guys….Semangkaaaa…eh Semangaaatt :p

 

Jakarta Selatan, 8 November 2011

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 8, 2011 in Uneg-uneg rutin

 

Monday daily….hmmm..

 

Assalamualaikum..Met siang….

Saya baca status teman saya di FB, dia bilang kalau siang ini terik banget..hmmm…nggak ngaruh banget sih kalo saya, soalnya kan saya makan siang di meja hehehehe…alias ngehabis-in bekal yang di buat sama emak di rumah..

Hari ini gak banyak yang aneh2, biasa…cuma beberapa request dollar aja dari orang2 kantor…khusus nya Kepala Divisi (Kadiv) yang mau berangkat dinas ke luar neger….(hmmm, kapan ya saya jg bisa hehehe :p).Nanti sore, saya mau main badminton….biasa, kegiatan baru yang lumayan berguna banget buat kebugaran…en juga kesehatan. Ya iya lah, soalnya kalo kerjaan dah numpuk…lembur en stress…pulang malem, kurang tidur…nggak olahraga juga…hmmm…tinggal nunggu rontok nya deh…syukur2 gak masuk rumah sakit hehehehe (amit2…jangan deh).

Mulai awal minggu ini, dan mungkin seterus nya…saya sudah nggak terlalu sering mengantar pacar saya pulang. Kenapa ???….ya karena ada teman-nya yang baru di terima di kantor pacar saya…yg mana dia itu satu arah pulang…so, sekalian aja bareng pulang nya…itu kata pacar saya ya…(bukan saya 😀 )….

Kalau sudah begitu, ya mulai lagi deh saya pulang sendiri…di motor sendirian, dengerin musik di headset, nyanyi2 gak jelas di atas motor…tapi ada untung nya jg sih…jd gak terlalu malem pulang ke rumah…ya itung2 bisa habis kan sisa waktu istirahat bareng2 keluarga saya.

Waktu Istirahat dah tinggal 2 menit, hmmm…kayak nya dah waktu nya  saya nge cek2 lagi kerjaan yang saya stop pas istirahat tadi….ya udah, mari kita bekerja kawan2….see you…

 

Jakarta Selatan, 7 November 2011

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 7, 2011 in Tak Berkategori