RSS

Arsip Kategori: Foto Bicara

Bemo ku sayang….Bemo ku Malang

Met Pagi teman-teman…

Tau yang namanya BEMO kan…??

Nah, setiap saya pulang dari kegiatan saya sehari-hari, selalu saja saya melewati sebuah kawasan di DKI Jakarta yang dinamakan kawasan “BENDUNGAN HILIR”…atau disingkat BENHIL…karena kebetulan juga saya melewati “jalan tikus” yang melalui wilayah ini..ya sekedar mencari alternatif jalan pulang di
kondisi pulang kantor kota Jakarta sore hari. Ada pemandangan yang menarik saya setiap lewat di kawasan itu…yang pasti bukan jejeran toko kue dan cafe seperti di kawasan Kemang Jakarta Selatan…atau mungkin pusat belanja besar lengkap dengan mobil2 mewah seperti di Kawasan
Senayan. Bukan teman2…tapi hanya sederetan Kendaraan Bemo yang parkir di depan RSAL Dr.Mintohardjo dan di Depan Pasar Benhil.

Aneh memang, tapi apakah teman2 sendiri pernah mencoba

naik kendaraan ini ?…mungkin ada yang pernah, mungkin juga tidak….tapi terlepas dari itu, kendaraan Bemo ini adalah salah satu dari sekian kendaraan “antik” yang masih beroperasi di Jakarta. Saya akan coba menjelaskan sejarah dan profile dari kendaraan Bemo ini :
********
TIPE-TIPE KENDARAAN BEMO

1. MODEL DK

Mulai dijual 1 Agustus 1957. Kemudi berbentuk stang seperti sepeda motor. Ruang pengemudi dan ruang muatan memiliki atap dari kanvas. Ruang pengemudi tidak berpintu. Panjang keseluruhan: 2.540 mm, lebar keseluruhan: 1.200 mm, tinggi keseluruhan: 1.500 mm. Penumpang maksimum 1 orang. Mesin tipe ZA, dua langkah, berpendingin sistem kipas, kapasitas silinder 250 cc, bahan bakar bensin. Kekuatan maksimum 10 tenaga kuda. Kecepatan maksimum 65 km/jam (spesifikasi dari katalog). Maksimum muatan 300 kg, berat kosong 350 kg.

Variasi model berdasarkan model DK:

DKA (model awal), DKII, DSV (bagian belakang dibuat kotak), DSAP (kapasitas 2 tempat duduk).

2. MODEL MP

Mulai dijual bulan Oktober 1959. Bagian hidung sebelah dalam menjadi bagian dari ruang pengemudi, dan bentuknya lebih manis dan halus dibandingkan model DK. Model MP mulai menggunakan stir bundar

sehingga lebih mudah dikendarai. Ukuran lebih besar dibandingkan model sebelumnya, panjang keseluruhan: 2.970 mm, lebar keseluruhan: 1.295 mm, dan tinggi keseluruhan: 1.455 mm. Kapasitas tempat duduk: 2 orang. Mesin yang digunakan adalah tipe ZA, dan tipe ZD untuk Midget tipe III 
(kapasitas silinder: 305 cc, kekuatan maksimum 12 tenaga kuda). Model yang diproduksi: Tipe II (mesin tipe ZA), Tipe III (mesin tipe ZD).

Satu keunikan bemo yang tidak bisa dilupakan selain tongkrongan lucunya…hehehe =p , adalah posisi tempat duduk penumpangnya. Karena di negeri asal, Jepang, bemo hanya dimanfatkan sebagai angkutan barang, maka ketika di negara kita dipasangkan tempat duduk, ruangan yang tersedia
menjadi sempit. Apalagi biasanya bemo digunakan untuk mengangkut paling kurang delapan penumpang: 6 di bagian belakang dan 2 di depan, termasuk sang sopir. Karena itu penumpang di bagian belakang seringkali harus beradu lutut, duduk berdesak-desakan. Akibatnya, menumpang bemo dapat
menimbulkan kenangan manis tersendiri, khususnya bagi mereka yang mungkin mendapat pacar gara-gara beradu lutut di bemo. Hmm, apakah teman2 salah satunya?…hehehehe =p

***********

Sayang-nya teman2, bemo saat ini sudah banyak dihapuskan dari skema angkutan kota karenadianggap sudah terlalu tua, tidak aman lagi dan asapnya menyebabkan polusi. Namun di berbagai tempat bemo masih mampu bertahan dan sulit dihapuskan. Walaupun demikian, nama ‘Bemo’ tetap
melekat dan terpatri di benak orang Indonesia. Terbukti apabila mau naik kendaraan angkutan umum orang sering menggampangkan sebutannya dengan naik bemo, meski bentuk kendaraan umum yang
dinaiki itu jauh beda dengan bemo.

Ya, Mudah2an saya masih tetap bisa lihat bemo berjejer parkir di kawasan Benhil setiap saya pulang…hehehe…

@ Sumber : http://www.wikipedia.com…..www.wartakota.co.id….www.asal-usul.com….

@ Sumber Gambar : http://www.asal-usul.com

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 5, 2010 in Foto Bicara

 

Cerita Meriam “Si Jagur”

Keberadaan meriam Si Jagur di Indonesia sudah lama dikenal masyarakat secara luas. Selain

bentuknya yang unik, juga lika-liku perjalanan panjang dan sejarah Si Jagur membuat tiap orang

kepingin tahu asal-usulnya. Sejarah mencatat bahwa meriam kuno yang disebut Si Jagur ini dibuat oleh

MT Bocarro di Macao sebagai peralatan tempur. Kemudian diangkut ke Malaka untuk memperkuat

benteng Portugis di Malaka. Ketika Malaka jatuh ke tangan VOC tahun 1641, meriam Si Jagur diangkut

ke Batavia. Niatnya untuk memperkuat pertahanan Batavia dari ancaman musuh. Andaikata meriam Si

Jagur itu manusia/prajurit tempur, pastilah dia sudah berpangkat jenderal. Sebab meriam ini

diutamakan guna menghancurkan pertahanan musuh. Dan jatuh-bangun di medan perang dengan

memuntahkan ratusan bahkan ribuan peluru yang dapat membumi hanguskan lawan.

Pada punggung belakang meriam ini tertera tulisan bahasa latin EX ME IPSA RENATA SUM yang

terjemahan bebasnya adalah DARI DIRIKU SENDIRI AKU LAHIR KEMBALI. Atau bisa ditafsirkan juga

bahwa meriam Si Jagur dilebur dari meriam-meriam kecil yang jumlahnya 16 buah. Terbuat dari logam

besi berukuran panjang 380 cm. Panjang tangan di bagian belakang yang banyak menarik perhatian

sekitar 41 cm. Lingkar tangan belakang 60 cm, diameter moncong meriam bagian depan 39 cm (bagian

dalam) dan 50 cm (keluar) lingkar moncong meriam 158 cm, lingkar badan meriam terkecil 122 cm, lingkar

badan meriam terbesar 206 cm, lebar badan meriam 100 cm. Berat meriam 7000 pound atau 3,5 ton.

Nomor seri 27012.

***Mitos Seputar Meriam Si Jagur***

Sebagian masyarakat terlanjur percaya bahwa kepalan ibu jari yang dijepit oleh jari telunjuk dan jari

tengah Si Jagur itu lambang kesuburan. Bagi wanita yang bersuami tetapi belum punya anak, maka

khasiat meriam Si Jagur diyakini bisa memberikan berkah kehamilan. Pernah terjadi seorang wanita

cantik disertai suami dan kerabatnya menghampiri badan meriam. Wanita itu membuka sedikit bagian

bajunya sehingga perutnya bisa bersentuhan langsung dengan badan meriam khususnya pada bagian

belakang ‘Mano In Fica’ simbol pertemuan jantan dan betina untuk memperoleh kehamilan. Perut wanita

itu digosok-gosokan disitu. Aneh juga dalam kehidupan modern masih ada sebagian masyarakat yang

percaya dengan mistik. Inilah salah satu daya tarik meriam Si Jagur bagai magnet yang menarik

masyarakat datang untuk membuktikan kebenarannya. Apa benar perempuan bisa hamil dengan cara

menyentuh dan menggiosok-gosokan perurtnya pada bagian belakang yang betuliskan ‘Mano In Fica’?

Terserah, boleh percaya atau tidak. Bagi orang beriman pasti tidak akan percaya, tapi bagi mereka

yang suka mistik entah apa jadinya

Yah, begitulah teman2..tentang meriam Si Jagur…semuanya itu hanya Allah yang tau..rejeki,nasib,

jodoh en sebagai-nya….=)

Sumber : http://www.tamanismailmarzuki.com

(dengan beberapa perubahan seperlunya)
 
9 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 12, 2010 in Foto Bicara

 

Old Hospital….

Ass’kum…

Merasa familiar dengan foto diatas ??….atau mungkin tidak ??. Foto diatas adalah foto dari suasana Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSUPN Cipto Mangunkusumo) pada tahun 1979. Masyarakat biasa mengenal rumah sakit ini dengan sebutan RSCM…(kalau menurut rekan sejawt saya, RSCM ini adalah singkatan dari Rumah Sakit Cepat…..hehehehe, lanjut-in sendiri deh).

Kalau teman-teman sempat berkunjung ke rumah sakit ini, apalagi pada jam kunjung pasien….fuuuuhhh, di setiap sudut rumah sakit pasti akan dijumpai para keluarga pasien (dan bahkan pasien-nya juga) yang duduk lesehan di lantai, antri di loket dan bahkan gelar tikar untuk tidur. Setiap hari-nya, pemandangan itu tidaklah aneh bagi saya….memang namanya juga rumah sakit pemerintah…hehehe.

Rumah sakit ini adalah rumah sakit rujukan nasional, selain itu juga berfungsi sebagai rumah sakit pendidikan bagi para calon dokter khusus-nya di lingkungan FKUI. Gedung-nya sudah sangaaaatt tua sekali, dahulu dinamakan CBZ (Centrale Burgelijke Ziekenhuis)…waktu dulu masih disatukan dengan STOVIA atau istilah-nya “sekolah dokter jawa”. Kalau sekarang, gedung RSCM ini, masih mempertahankan bentuk asli-nya…hanya ada beberapa perombakan dan penambahan bangunan-bangunan untuk keperluan perawatan pasien dan Laboratorium.

Kalau kita mampir ke FKUI Salemba, melalui pintu belakang, akan terhubung dengan lorong dari RSCM yang memanjang hingga ke belakang rumah sakit. Biasa-nya para Mahasiswa FKUI dan dokter-dokter, hilir mudik lewat melalui pintu ini. Di sekitar pintu ini juga dapat kita temui Kafetaria Mahasiswa dan Beberapa pusat studi Ilmu-ilmu Kedokteran. Di RSCM sendiri, terbagi-bagi atas banyak departemen…saking banyak-nya, saya sampai lupa semua-nya…hanya beberapa saja yang saya ingat…misalnya Dep.Mata, Dep.Tumbuh Kembang, Dep.Bedah, Dep.Urologi, Dep.Radiologi, Dep.Penyakit dalam…dsb.

Untuk biaya perawatan pasien di RSCM, sangat terjangkau..khusus-nya para pasien dari keluarga yang kurang mampu dapat terbantu dengan ada-nya program JAMKESKIN (Jaminan Kesehatan Keluarga Miskin). Tapiii, ya itu tadi, mereka masih harus antri berjam-jam dan bahkan berebutan untuk mendapatkan giliran berobat. Tapi jangan salah lho, kabar-nya Gus Dur juga suka menggunakan fasilitas RSCM ini untuk berobat dan chek up kesehatan…jadi menurut hemat saya, RSCM itu Rumah Sakit untuk semua…hehehe….

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 1, 2009 in Foto Bicara

 

Lumpia…oh…Lumpia…

(Sumber : Wikipedia)

Lumpia Semarang adalah makanan semacam rollade berisi rebung, telur, dan daging ayam atau udang.

Citarasa lumpia Semarang adalah perpaduan rasa Tionghoa dan Indonesia, karena memang penemunya adalah orangTionghoa Semarang yang menikah dengan orang Indonesia.

Makanan ini mulai dijajakan dan dikenal di Semarang pada waktu pesta olahraga GANEFO pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Di Semarang dewasa ini ada lima ”aliran” lumpia Semarang dengan cita rasa berbeda. Pertama aliran Gang Lombok (Siem Swie Kiem), kedua aliran Jalan Pemuda (almarhum Siem Swie Hie), dan ketiga aliran Jalan Mataram (almarhumah Siem Hwa Nio). Ketiga aliran ini berasal dari satu keluarga Siem Gwan Sing–Tjoa Po Nio yang merupakan menantu dan putri tunggal pencipta lumpia Semarang, Tjoa Thay Yoe–Wasih.

Aliran keempat adalah sejumlah bekas pegawai lumpia Jalan Pemuda, dan aliran kelima adalah orang-orang dengan latar belakang hobi kuliner yang membuat lumpia dengan resep hasil pembelajaran dari lumpia yang sudah beredar.

Generasi tertua saat ini, yaitu generasi ketiga Siem Swie Kiem (65), tetap setia melayani konsumennya di kios warisan ayahnya (Siem Gwan Sing) di Gang Lombok 11. Keistimewaan lumpia Gang Lombok ini menurut sejumlah penggemarnya yang sempat ditemui di kios tersebut adalah racikan rebungnya tidak berbau, juga campuran telur dan udangnya tidak amis.

Lumpia buatan generasi keempat dapat kita peroleh di kios lumpia Mbak Lien alias Siem Siok Lien (43) di Jalan Pemuda dan Jalan Pandanaran. Mbak Lien meneruskan kios almarhum ayahnya, Siem Swie Hie, yang merupakan abang dari Siem Swie Kiem, di Jalan Pemuda (mulut Gang Grajen) sambil membuka dua cabang di Jalan Pandanaran.

Kekhasan lumpia Mbak Lien ini adalah isinya yang ditambahi racikan daging ayam kampung. Ketika awal mula meneruskan usaha almarhum ayahnya, Mbak Lien membuat tiga macam lumpia, yaitu lumpia isi udang, lumpia isi ayam (untuk yang alergi udang), dan lumpia spesial berisi campuran udang serta ayam. Tetapi, karena merasa kerepotan dan apalagi kebanyakan pembeli suka yang spesial, sekarang Mbak Lien hanya membuat satu macam saja, yaitu lumpia istimewa dengan isi rebung dicampur udang dan ayam.

Adapun generasi keempat lainnya, yaitu anak-anak dari almarhum Siem Hwa Nio (kakak perempuan dari Siem Swie Kiem) meneruskan kios ibunya di Jalan Mataram (Jalan MT Haryono) di samping membuka kios baru di beberapa tempat di Kota Semarang. Di antara anak-anak almarhum Siem Hwa Nio ini ada juga yang membuka cabang di Jakarta. Bahkan ada cucu almarhum Siem Hwa Nio sebagai generasi kelima membuka kios lumpia sendiri di Semarang.

Selain keluarga-keluarga leluhur pencipta lumpia semarang tersebut, sekarang banyak juga orang-orang ”luar” yang membuat lumpia semarang. Mereka umumnya mantan karyawan mereka. Mereka yang mempunyai hobi kuliner juga turut meramaikan bisnis lumpia semarang dengan membuat lumpia sendiri, seperti Lumpia Ekspres, Phoa Kiem Hwa dari Semarang International Family and Garden Restaurant di Jalan Gajah Mada, Semarang.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 3, 2009 in Foto Bicara